Minggu, 13 Oktober 2013

Best practise

SIASATI BENCANA DENGAN KEBERSAMAAN 
Pnpm Pisew adalah salah satu Program Nasional Pemberdayaaan Masyarakat yang fokusnya adalah menyiapkan pembangunan infrastruktur guna menunjang kegiatan social ekonomi masyarakat dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan serta pemeliharaannya berdasarkan potensi wilayah dalam rangka mengurangi angka kemiskinan, mengurangi kesenjangan antar wilayah, penguatan kelembagaan baik di desa, kecamatan, kabupaten dstnya. 
Dari proses perencanaan partisipasi masyarakat aktif dalam melakukan identifikasi masalahnya serta mencari solusi apa yang perlu diambil untuk menjawab permasalahan tsb berdasarkan potensi wilayahnya dalam wadah Kelompok Diskusi Sektor (KDS) , sehingga usulan-usulan kegiatan benar-benar bermanfaat yang difasilitasi oleh fasilitator desa maupun fasilitator kecamatan, yang pada akhirnya dari proses perencanaan ini menghasilkan dokumen Renstra Kecamatan maupun program investasinya (PIK) dan DED / RAB untuk paket kegiatan. 
Pada tahapan pelaksanaan fisik melalui mekanisme penilaian dan seleksi Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) yang akan ditunjuk sebagai pelaksana , dengan mengacu kepada 3 aspek yang dinilai, yakni: Aspek Managerial, Aspek Teknis serta Financial maka ditetapkanlah LKD � LKD pemenang dan didukung oleh Rekomendasi Camat sebagai salah satu bentuk jaminan kepada LKD pemenang bahwa LKD tersebut sanggup dan mampu menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan segala resiko yang mungkin akan terjadi. 
Sebagai salahsatu LKD pemenang seleksi untuk mengerjakan paket kegiatan pisew tahun 2012 maka saya Sirajuddin sebagai ketua LKD Kelompok Tani Paraita, yang berlokasi di Dusun Lempobura, Desa Randomayang Kecamatan Bambalamotu Kabupaten Mamuju Utara dipercayakan untuk mengerjakan Paket Pembuatan 2 Unit Plat Deuker ukuran 6 x 1,4 M dengan Kontrak SP3 No. 005/76/05/040/ PISEWW- J / 2012 dengan Nilai Kontrak RP. 29.680.000,- (Duapuluh Sembilan Juta Enamratus Delapanpuluh Ribu Rupiah) yang ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kabupaten Mamuju Utara sebagai pihak I dengan saya sebagai pihak II sebagai salah satu bentuk ikatan kontrak dan tanggungjawab kami untuk menyelesaikan paket pekerjaan tsb. Sesuai dengan hasil sosialisasi baik ditingkat kecamatan maupun desa yang dilakukan oleh konsultan pendamping kecamatan, kabupaten serta satker bahwasanya LKD adalah wadah yang diberikan amanah untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut tetapi yang bekerja adalah pengurus LKD bersama dengan masyarakat yang berada disekitar lokasi tersebut. Sehingga sebelum memulai pekerjaan kami bersama �sama fasilitator desa dan konsultan pendamping (FK) melakukan rapat dengan sebagian besar masyarakat untuk membahas tentang paket pekerjaan mulai dari penyiapan tenaga kerja ,material dllnya sehingga didapatkan kesepakatan bahwa tenaga kerja adalah berasal dalam desa kami demikian pula dengan bahannya adalah menggunakan material local berupa batu kali, pasir dll. 
Dalam perjalanannya ketika pekerjaan kami telah mencapai kemajuan pekerjaan � 90 % sesuai hasil penilaian tenaga teknis lapangan yang mana 1 unit telah selesai sementara yang satu unit lagi kondisinya tinggal pekerjaan timbunan Oprit serta pemasangan Leningnya tiba-tiba terjadi bencana berupa banjir datang dan menabrak badan pondasinya yang pada saat itu belum ditimbun sehingga mengakibatkan badan pondasi serta plat yang sudah dicor rusak kejadian ini terjadi pada tanggal 13 Juli 2012 jam 18.00. Sebagai rasa tanggung jawab kami sebagai ketua dalam menyelesaikan permasalahan ini, bukan berarti melepaskan tanggungjawab dengan alasan bencana banjir tetapi bagaimana mewujudkan kedua plat deuker tersebut sesuai dengan DED / RAB yang tertuang dalam SP3. Dengan bantuan fasilitasi dari TTL besama Pokja dan Fasilitator Desa kami mencoba untuk melakukan diskusi/ musyawarah bersama masyarakat yang pada akhirnya disepakati bahwa dengan sisa dana yang ada serta swadaya masyarakat berupa tenaga kerja dan material akhirnya plat deuker tersebut dapat terbangun kembali, perlu diketahui pula bahwa posisi plat deuker ini berada pada jalan poros yang menghubungkan antara desa Wulai dan Desa Randomayang sebagai Ibukota Kecamatan. Dengan selesainya kedua plat deuker ini maka khususnya masyarakat Desa wulai telah memanfaatkan karena jalan ini dan penunjangnya merupakan satu-satunya akses yang digunakan apabila terjadi hujan dan banjir. Sehingga dengan demikian masyarakat merasa puas dan senang. 
Demikianlah tulisan ini mudah-mudahan bisa memberikan motivasi kepada kita semua untuk membangun desa kita dan takkalah pentingnya adalah dengan kebersamaan kita akan mampu menyelesaikan permasalahan demi kepentingan kita semua �� Amin LKD Kelompok Tani Paraita SIRAJUDDDIN Ketua
Download File Artikel di sini Download File Bestpractice di sini

Best practise

Bencana Beri Pelajaran Berharga Pentingnya PRB

Indonesia telah mengalami berbagai bentuk bencana alam, yang menjadi ancaman keamanan nasional terbesar. Namun sejak tragedi tsunami di Aceh, pemerintah menjadikan upaya mereduksi risiko bencana sebagai prioritas nasional. Berdasarkan indeks risiko bencana (Indonesia Disaster Risk Index/IDRI) maka terdapat 396 daerah yang berada di wilayah berisiko tinggi terkena bencana alam dari 494 daerah.
Dalam pidatonya, saat membuka secara resmi Konferensi Tingkat Menteri se-Asia untuk Pengurangan Resiko Bencana ke-5 (5th Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction/5th AMCDRR), di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Selasa (23/10), Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan betapa pentingnya memperkuat kapasitas daerah  dalam Pengurangan Resiko Bencana (PRB).
Berbagai bencana yang terjadi di Indonesia memberikan pelajaran berharga akan pentingnya PRB, sebab banyak kejadian bencana yang menurunkan hasil pembangunan.
Presiden menyebutkan ada 6 (enam) hal yang dapat memperkuat kapasitas lokal dalam Pengurangan Resiko Bencana di tanah air.
Hal pertama adalah dengan meningkatkan ketahanan lokal terhadap bencana. “Indonesia telah melakukannya dengan program Kampung Siaga di pedesaan daratan dan Desa Pesisir Tangguh di pedesaan wilayah pesisir,” kata Presiden.
Hal kedua, Presiden menyebut akan pentingnya partisipasi berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung PRB.
Hal ketiga, Presiden mengatakan perlunya membangun kapasitas sumber daya manusia dan teknologi di tingkat lokal untuk mewujudkan kesiapsiagaan bencana. “Kita perlu melibatkan pengetahuan lokal yang terbukti efektif di masa lalu, untuk mendukung langkah antisipasi bencana dan mitigasi dampaknya,” kata Presiden.
Komunitas lokal memiliki beragam metode untuk menangani bencana. Metode mereka bisa lebih efektif lagi bila diintegrasikan dengan langkah-langkah terkini dan best practices pada manajemen bencana, kata Presiden.
Hal keempat, Presiden menyebutkan pembiayaan adalah faktor penting untuk mencapai kesuksesan PRB. “Pendanaan menjadi isu penting dalam hal ini. Pendanaan yang baik di tingkat lokal penting untuk menyasar target yang tepat,” sebut Presiden. 
Hal kelima, Presiden menjelaskan bahwa perlunya koherensi kapasitas lokal dan nasional. 
Hal keenam, Presiden menekankan pentingnya integrasi PRB pada bencana skala kecil dengan adaptasi perubahan iklim.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Syamsul Maarif mengatakan, salah satu kunci kesuksesan upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) adalah kerjasama antar stakeholder. Saat ini kerjasama dengan dunia usaha masih sulit dilakukan. “Dunia usaha, saat ini belum banyak yang mau kita bawa PRB,” kata Syamsul.
Menurut Syamsul, paradigma dunia usaha saat ini masih berupa pemberian bantuan pasca terjadinya bencana. Padahal, dalam PRB, yang diupayakan adalah antisipasi bencana dan perubahan iklim.
Pengalaman saya, untuk dunia usaha belum banyak yang mau untuk kita bawa ke PRB (DRR-red). PRB itu kan persoalan sebelum, artinya pengurangan risiko bencana. Nah, ini belum banyak. Misalnya, kita ajak latihan itu belum banyak. Saya ngga mau sebutkan, nanti nggak enak. Alasannya, ya, mungkin iklan, ujarnya.
Syamsul berharap, kalau ingin member bantuan itu yang bentul-betul ingin membantu, atau istilahnya yang empatinya tampak. Padahal sekarang, paradigma kita adalah paradigma perubahan iklim dan paradigma pengurangan risiko bencana.
Jadi, sekaligus dalam kesempatan ini saya meminta kepada dunia usaha untuk menunjukkan empatinya. Dunia usaha harus menyadari bahwa pihaknya adalah bagian dari stakeholder yang berperan dalam PRB. “Banyak sekali usaha-usaha yang merusak lingkungan, jadi, mestinya dia harus bertanggung jawab untuk pengurangan risiko, pinta Syamsul.
Syamsul mengingatkan bahwa kerjasama multipihak menentukan kesuksesan PRB. Daerah dengan sumber daya yang terbatas tidak dapat melakukan upaya PRB sendirian.
Selain soal kerjasama, juga pentingnya integrasi pengurangan risiko bencana, adaptasi, perubahan iklim dan tata kelola pendanaan yang baik dalam program PRB.
Sekarang ini bagaimana semua stakeholder menjadi jadi satu terkait dengan penanggulangan bencana. Misalnya saja sekarang ada Kementerian Lingkungan Hidup, ada Kementerian Kehutanan ada Kementerian atau Badan tentang penanggulangan bencana. Masing-masing punya anggaran sendiri-sendiri.
Tetapi, kalau dilihat di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), prioritas untuk lingkungan dan kebencanaan alam itu sudah dijadikan satu prioritas nomor 9 dari 14, kata Syamsul.

Tanggapan-tanggapan pasca pidato Presiden RI dalam pembukaan (5th AMCDRR)
Mencermati apa yang disampaikan oleh Presiden SBY pada pembukaan Konferensi Tingkat Menteri untuk Pengurangan Risiko Bencana yang ke V di Yogyakarta, Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB) menyatakan beberapa hal yakni Planas PRB mendukung pernyataan Presiden terhadap penguatan forum stakeholder sampai tingkat daerah dalam rangka meningkatkan ketahanan bangsa dalam menghadapi bencana dan dampak akibat perubahan iklim.
Dalam rangka membangun ketahanan bersama bagi komunitas, kami mendorong kepada setiap pihak untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, bukan lingkungan yang merusak atau menjadi rusak di masa datang, seperti kebijakan yang adil dan berpihak kepada komunitas, kata Ketua Planas PRB Indonesia Avianto Muhtadi.
Secara khusus, Planas PRB mengajak semua stakeholder mencermati kegiatan pembangunan agar berpotensi berkelanjutan dan tentu tidak merusak lingkungan dan juga berkelanjutan kehidupan bangsa.
Arifin Purwakananta Wakil Ketua Planas yang juga salah satu Direktur di Dompet Dhuafa menyebut pentingnya pendanaan dan berhati-hati menggunakan dana-dana yang memang berhubungan dengan utang
Ada dua poin dari saya yakni pertama kami mensupport dan mendukung pernyataan Bapak Presiden SBY yang mengatakan bahwa gagasan tentang pengurangan risiko bencana (PRB) dan Adaptasi Perubahan Iklim (API) untuk dimasukkan ke dalam ranah pembangunan di Indonesia dan itu menurut kami benar dan kita harus mensupport hal itu untuk kedepan membuat Indonesia lebih baik dalam hal penanganan bencana dan adaptasi perubahan iklim, sehingga kedepan daslam hal kebencanaan kita semua tidak responsive juga tidak sekedar hanya kegiatan rutinitas bahkan menjadi semacam pesta kebencanaan, namun kita dalam semua segi pembangunan Indonesia sudah memasukkan matra disaster risk reduction dan matra adaptasi perubahan iklim, dan kami mendukung itu.
Yang kedua, kami hanya mengingatkan bahwa apa yang tadi dikatakan bahwa penanganan begitu penting dalam hal pengurangan risiko bencana dan menejemen bencana. Kami ingin mengingatkan bahwa ketika dana menjadi hal yang disisihkan, maka kami lebih mendorong upaya kiat semua untuk meningkatkan pendanaan baik dana pemerintah maupun dana public serta dana korporasi terhadap penanganan bencana.
Kami berharap semua komponen yang menggunakan pendanaan ketika melakukan aktivitas pengurangan risiko bencana atau penanggulangan bencana maka semua harus lebih mengedepankan akuntabiliti, transparansi mengenai dana, dan kami juga ingin mengingatkan agar upaya-upaya kita yang menggunakan dana hutang untuk penanggulangan bencana maupun pengurangan risiko bencana untuk kita lebih maknai, lebih hati-hati, agar tidak berkembang menjadi bencana berikutnya, karena menangani bencana melalui dana hutang harus dimaknai dengan lebih dalam, dengan lebih hati-hati agar kita tidak terjebak ke dalam bencana berikutnya
Romo Budi dari Karina mengatakan, perlu penguatan komunitas termasuk paradigma masyarakat di sana, sehingga paling tidak bukan hanya ngomong dana. Bahwa kalau kita memperkuat local community paradigm yang pertama adalah komunitas itu sendiri.
Investasi utama untuk pengurangan risiko bencana yang berkelanjutan adalah komunitas dan ini yang hendaklah kita sadari bersama bahwa merekalah focus kita, mereka yang merencanakan, mereka yang melakukan dan mereka yang mengevaluasi secara seorang dukun bayi yang melahirkan potensi-potensi mereka, bukan mengambil alih tanggung jawab terhadap pengurangan risiko bencana di tingkat komunitas. Oleh karenanya, kami sangat senang presiden memberikan penghargaan kepada local wisdom, cara-cara lokal yang ingin digabungkan dengan pendekatan-pendekatan modern.
Tapi, jangan lupa bahwa yang pertama dan utama adalah komunitas itu sendiri, karena kalau kita pergi, merekalah yang akan melanjutkannya dan ini yang menjamin bagi kelanjutannya.
Maka, dengan apa yang disampaikan Bapak presiden ini, hendaklah kita juga berpikir kembali bagi mereka yang memperalat komunitas bagi kepentingan-kepentingan lainnya di luar pengurangan risiko bencana hendaklah dihentikan, sehingga komunitas ini menjadi bos kita, menjadi orang yang sungguh-sungguh mempunyai kekuatan.
Kalau ini semua dihilangkan komunitas nanti akan diobyekkan dan akhirnya pembangunan dibuat, namun kelanjutannya tidak ada. Jadi, sekali dibangun, selesai. Tetapi kalau komunitas itu dikuatkan, komunitas itu menjadi aktor utama dan saya percaya, keberlanjutan sungguh-sungguh bisa dijamin.
Dati Fatimah, Direktur Aksara Yogyakarta mengatakan pentingnya gender, sesuai kampanye Hari Pengurangan Risiko Bencana yang selalu diperingati setiap tahun di Bulan Oktober pada tanggal 13
Ada dua poin yakni yang pertama adalah terkait dengan kelompok rentan yang perlu menjadi perhatian. Begitu juga tema Hari Pengurangan Risiko Bencana tahun ini adalah terkait dengan anak dan perempuan, karena kita belajar dari berbagai bencana bahwa mereka dihadapkan dengan kerentanan yang berlipat dalam bencana.
Harus ada langkah-langkah yang lebih serius, saya kira. Saya tidak mengatakan bahwa tidak ada langkah, berbagai kemajuan dalam regulasi sudah diakui, tentang pentingnya kelompok rentan.
Tetapi di tingkat lapangan ternyata perubahannya belumlah cukup untuk memastikan bahwa mereka menjadi bagian inti dari upaya PRB. Dan ini perlu menjadi perhatian bukan hanya satu atau dua kementerian saja, tetapi menjadi perhatian dari berbagai organisasi, institusi, pemerintah, non juga pemerintah.
Kemudian yang kedua, terkait dengan kelembagaan BNPB, saya kira Indonesia bisa diakui dengan berbagai kemajuan terkait dengan keberadaan lembaga-lembaga penanganan bencana baik di tingkat nasional BNPB, dan BPBD di tingkat Provinsi dan kabupaten/kota.
Bahkan di tingkat provinsi semua sudah memiliki, ini merupakan kemajuan yang luar biasa, tetapi, pertanyaan lebih lanjut adalah kita perlu memastikan bahwa adanya kelembagaan itu berimplikasi kepada penanganan, koordinasi bencana dan juga proses pengarusutamaan PRB dalam pembangunan itu menjadi lebih serius dan lebih bisa diukur.
Saya kira, kita perlu menggaris bawahi bahwa diperlukan langkah-langkah yang lebih riil dan itu lebih bisa diukur sehingga keberadaan lembaga yang sudah kita lihat ini bisa sangat berarti bagi perlindungan masyarakat, termasuk juga kelompok rentan dalam bencana.
Pada kesempatan itu, Ketua Planas PRB Avianto Muhtadi Munir membacakan 6 (enam) butir rekomendasi Planas PRB yakni :
Kami mendukung pernyataan Presiden SBY dalam penguatan forum stakeholder, multi stakeholder sampai tingkat daerah yang intinya adalah meningkatkan ketahanan bangsa dalam menghadapi bencana dan dampak dari perubahan iklim.
Dalam rangka pembangunan ketahanan tersebut bagi komunitas, kami mendorong kepada setiap pihak untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, tidak yang merusak seperti kebijakan yang adil dan berpihak kepada komunitas. Secara khusus kita semua mencermati kegiatan pembangunan berkelanjutan, berpotensi merusak lingkungan dan berpotensi tidak berkelanjutan apabila sumber daya lingkungan itu diperhatikan dengan sebaik-baiknya.
Kami mendukung pernyataan tentang pentingnya memperkuat aksi-aksi kolaborasi dan solidaritas antara kelompok cross sector. Perguruan tinggi, lembaga institusi, NGO, kelompok profesi untuk terlibat dalam perempuan dan anak sehingga kegiatan kerjasama tingkat nasional, bilateral, multilateral bisa didorong ke arah tersebut sehingga mempunyai suatu potensi.
Kami mencermati pernyataan mengenai pentingnya pendanaan. Menurut kami, pernyataan ini harus ditanggapi secara hati-hati dan juga harus mengingat pengalaman di lapangan ini yang sebelumnya kami menemukan bahwa eksistensi dana on call atau dana kedaruratan memiliki banyak pengaruh terhadap kinerja kedaruratan. Karena dana penanggulangan bencana haruslah dipergunakan dalam bingkai tranparansi dan akuntabilitasi baik terhadap pengguna maupun penerima manfaat. Penggunaana dana bantuan hutang luar negeri untuk penanganan bencana harus dicermati dengan bijaksana sehingga tidak menimbulkan bencana baru ataupun dampak pada bencana social yang lain.
Untuk membangun ketahanan komunitas terhadap bencana, kami merekomendasikan agar terjadi konsep percepatan dan kegiatan khusus untuk merubah paradigm para bupati dan walikota secara berjenjang. Sebagai kegiatan untuk memperkuat kapasitas pemerintah dalam kegiatan pengurangan risiko bencana.
Kami merekomendasikan untuk semua pihak melakukan kelembagaan kegiatan pengurangan risiko bencana dimulai dari perencanaan bencana dan analisa risiko, penelitian dan pengembangan, peningkatan kesadaran, kesiapsiagaan dan gladi dimulai dari komunitas sampai ke tingkat tertinggi sehingga ada inisiatif yang berkembang oleh kegiatan pengelolaan risiko bencana berbasis komunitas, kampung siaga bencana dan desa menjadi tahu serta sebutan lainnya maknanya sejajar.
Avianto menambahkan, dirinya melihat bahwa ana-anak di tengah kerentanannya juga memiliki kemampuan dan potensi yang diandalkan.
Anak-anak biasanya memiliki daya adaptasi yang sangat baik dan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tidak hanya itu, anak-anak juga jauh lebih cepat mempelajari sesuatu dan menyerapnya. Dalam kondisi normal, perlu memastikan bahwa anak-anak memiliki kesempatan untuk mengenali dan memetakan ancaman.
Sementara itu, Kanjeng Ratu Hemas dalam Pre-Conference Children Participation on Disaster Risk Rudiction, salah satu kegiatan yang diinisiasi oleh Plan International menyebutkan anak-anak merupakan salah satu kelompok rentan. Untu itu, penting membekali anak-anak dengan informasi dan pengetahuan yang cukup serta kemampuan untuk mengolah informasi dan menggunakannya.
Untuk itulah menjadi penting untuk melibatkan mereka dalam upaya pengurangan risiko bencana. Anak jangan dijadikan objek, mereka butuh di dengar dan dihargai pendapatnya. Sebaliknya anak diberikan ruang dan kesempatan untuk berkreasi dan berekspresi. Kewajiban orang dewasa untuk melindungi dan menjaga mereka dari segala bentuk ancaman, kata Kanjeng Ratu.
Frey Jhon, utusan pemuda dari Universitas Nasional, Jakarta dalam pertemuan sejumlah anak muda Korea, Jepang dan Indonesia yang mengusung tema “Pentingnya Peran Pemuda Dalam Pengurangan Risiko Bencana” menguatirkan perhelatan 5th AMCDRR seringkali dibarengi dengan pengembangan sebuah program besar dan seringkali untuk mempercepat program tersebut berjalan, hutang menjadi salah satu pilihan.
Senada Frey, Andre Sofyan yang juga delegasi anak muda dari Indonesia menyoroti, tidak hanya hutang. Namun, pentingnya mengajak anak muda di pedesaan dan di wilayah miskin perkotaan untuk terlibat aktif dalam upaya-upaya mengurangi risiko bencana.
Mudah-mudahan semua rekomendasi yang dihasilkan dalam AMCDRR ini yang sudah menelan biaya yang cukup besar dapat dinikmati oleh masyarakat luas, kata Andre.
Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction ke-5 (5th AMCDRR), yang berlangsung 22 - 25 Oktober 2012 di Yogyakarta, Indonesia, telah menelurkan Deklarasi Yogyakarta dalam Pengurangan Risiko Bencana di Asia Pasifik 2012.
Ada tujuh butir utama yang dirangkum dalam Deklarasi Yogyakarta, yakni, Pertama, mengintegrasikan upaya pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim dalam program pembangunan nasional. Kedua, melakukan kajian terhadap risiko finansial di tingkat lokal. Ketiga, menguatkan tata kelola risiko dan kemitraan di tingkat lokal.
Selanjutnya keempat, membangun ketangguhan masyarakat. Kelima, mengidentifikasi hal-hal yang akan dicapai pasca Hyogo Framework for Action (HFA) 2015. Keenam, mengurangi fator-faktor yang menjadi akar dari risiko bencana. Dan ketujuh, mengimplementasikan isu-isu lintas sektoral dalam HFA.
Kegiatan yang didukung United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UNISDR) itu resmi ditutup oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif, Kamis (25/10). “Negara-negara peserta konferensi menyadari bahwa pengurangan risiko bencana adalah tanggung jawab kita semua. Di sisi lain, pihak-pihak yang bekerja untuk pengurangan risiko bencana membutuhkan dukungan semua pihak untuk menerapkan hasil dari konferensi ke-5 AMCDRR ini,” kata Syamsul.
Deklarasi Yogyakarta yang telah disusun merupakan bagian dari rangkaian pencapaian bersama dari apa yang telah dihasilkan sebelumnya, seperti roadmap dan rencana aksi pengurangan risiko bencana. “Pencapaian tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan praktik-praktik yang lebih nyata dan kontribusi menuju kerangka kerja PRB pasca 2015 dan agenda pembangunan,” jelas Syamsul.
Hal yang menjadi pertimbangan dalam deklarasi tersebut bahwa negara-negara di kawasan Asia Pasifik menyadari meningkatnya jumlah kejadian bencana dan perubahan iklim dalam dua tahun terakhir yang sangat signifikan.

Best Practices -



OLEH ARIF ARHAM, anggota Asosiasi Fulbright Aceh, melaporkan dari Tokyo

Ketika berada kembali di Tokyo saat ini, saya terkenang pada situasi tiga bulan setelah gempa bumi dan tsunami melanda Jepang pada tahun 2011. Saat itu saya ikut kegiatan sukarelawan yang dimotori oleh Asean. Selain dari Indonesia, puluhan pemuda dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara itu pun ikut meramaikan kunjungan sosial tersebut.

Namun, ada yang mengejutkan saya ketika sampai di Miyagi, salah satu provinsi yang terkena bencana. Saya melihat proses pembersihan daerah yang terkena dampak bencana belum selesai. Bagi saya, untuk ukuran Jepang, proses itu sangatlah lambat.

Kami masih melihat kondisinya mirip seperti kawasan Punge di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, saat bencana 2004 lalu. Sampah-sampah tsunami masih ada dan mengeluarkan bau khas persis seperti di Aceh. Saya heran, bukankah menurut cerita, orang Jepang itu hebat dan sangat tangkas dalam menangani bencana? Tapi kenyataan yang temukan malah berkata sebaliknya.

Belum usai keheranan saya, pemandu dari Jepang menjelaskan bahwa proses yang lambat ini disebabkan oleh pemilahan benda metalik dan nonmetalik yang membutuhkan ketelitian dan waktu. Jepang berkomitmen menjaga lingkungan hidup bahkan sejak tahap tanggap darurat dan rehabilitasi dimulai.

Barulah saya paham bahwa ternyata semangat untuk menjaga lingkungan hidup tetap diutamakan dibandingkan hanya menunjukkan kepada media massa bahwa daerah bencana telah dibersihkan. Lagi pula, pekerjaan lain, seperti pemindahan penduduk ke daerah yang aman, juga terus dilakukan.

Selain mengunjungi lokasi gempa dan tsunami, para relawan juga melakukan pembersihan lumpur di salah satu gedung di Kota Ishinomaki dan menghibur penduduk setempat dengan kegiatan memasak dan menari/menyanyi. Lagi-lagi saya terkesima.

Kunjungan kami yang notabene dari negara-negara yang sedang berkembang ini sangat berarti bagi warga di sana. Padahal, mereka punya segalanya untuk membersihkan dan membangun kembali daerah yang terkena dampak bencana alam itu. Saya kira, Asean membantu atau tidak, tidak akan ada pengaruhnya bagi Jepang.

Bukankah bencana alam sudah biasa bagi mereka? Tapi, saya melihat wajah-wajah penduduk setempat yang ramah dan terharu melihat kedatangan kami. Mereka sangat senang dan bahagia. Mereka mengucapkan terima kasih berulang-ulang sambil membungkuk. Mata mereka berkaca-kaca. Tulus.

Keteguhan masyarakat Jepang juga tersirat dalam media massanya. Sebagai contoh, televisi publik Jepang. NHK. Ketika berbicara bencana, televisi ini menayangkan acara-acara dokumenter yang tidak cengeng. “Future” dan “Forward” adalah sebagian acara-acara NHK itu. Isinya dokumenter, wawancara, sejarah, dan penanganan terkini dari bencana 11 Maret 2011. Musik latarnya biasa saja. Kekuatannya justru pada ekspresi orang-orang di dalamnya yang menahan sedih, namun penuh harap akan perbaikan nasib di masa depan. Di saat yang sama, penonton terenyuh dan sekaligus bersemangat! Mungkin, bagi NHK, “in an emergency, a good news is a good news”.

Jepang sebagai negara dan sebagai bagian dari kebudayaan besar dunia memberi pelajaran penting dalam hal menghadapi masa-masa sulit. Walaupun segala ilmu pengetahuan dan teknologi kebencanaan telah dikuasai, namun kebutuhan ikatan sesama manusia (human bond) tak dapat tergantikan.

Saya menemukan bahwa di balik kecerdasan, kesantunan, dan kekuatan dalam dirinya, orang Jepang juga memiliki rasa berterima kasih yang tinggi. Kita harus belajar dari Jepang, tetapi bukan hanya teknologinya, melainkan juga semangat pantang menyerah, tekun, kreatif, melakukan yang terbaik, disiplin, ramah, bersahabat, dan yang lebih penting pandai berterima kasih.



Sumber: http://aceh.tribunnews.com

Rabu, 02 Oktober 2013

STRUKTUR ORGANISASI

STRUKTUR ORGANISASI

Sesuai Perda Kabupaten Kebumen No 8 th 2010, yang disahkan pada tanggal 4 Oktober 2010, maka BPBD Kab Kebumen  dipimpin secara ex officio oleh Sekretaris Daerah Kab Kebumen. Sekda membawahi Unsur Pengarah dan Unsur Pelaksana.

Unsur Pengarah merupakan kelompok jabatan yang komisioner, diambil dari intansi, profesional, ahli dll. Sampai saat ini unsur pengarah belum diisi personil.

Unsur pelaksana dikepalai oleh Kepala Pelaksana dengan eselon IIb, yang membawahi 4 eselon III b, yang terdiri dari Sekretaris, Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Bidang Kedaruratan dan Logistik, dan Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi.





Sekretaris yang dijabat oleh Ir. Agus Subekti, membawahi dua Sub bagian yaitu:
-Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan yang dijabat oleh: Alwi Malik, SE
-Sub Bagian Umum dan Kepegawaian yang dijabat oleh: Tamim Sobri, SIP

Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan dijabat oleh Ir Made Wirawan, membawahi dua Seksi yaitu:
-Seksi Pencegahan dijabat oleh: Ahmad Sofwani, SE
-Seksi Kesiapsiagaan dijabat oleh: Salam,SH

Bidang Kedaruratan dan Logistik dijabat oleh Drs. Muhyidin, membawahi dua Seksi yaitu:
-Seksi Kedaruratan dijabat oleh: Arif Rahmadi, S Sos.
-Seksi Logistik dijabat oleh: Basori, SIP.

Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi dijabat oleh Drs. Setyo Aji, membawahi dua Seksi yaitu:
-Seksi Rehabilitasi dijabat oleh: Sri Sugiarti Indraswati, S Sos
-Seksi Rekonstruksi dijabat oleh: Ir. Bagus